Siksanya hidup tanpa Iman.


Alangkah malangnya hidup tanpa iman. Setiap masalah yang menimpa disambut dengan buruk sangka dan penuh kebencian hingga hati-hati kita menjadi keras dan kering. Tidak ada ruang untuk pasrah dan menerima atau bersabar dan meyakini kesempurnaan tadbir dan takdir Allah SWT.

Kadang-kadang, kerana sikap begini, musibah kecil yang Allah timpakan pada kita menjadi berganda besarnya.

Bayangkan ketika kita sedang sibuk hendak ketempat kerja, datang anak kita dalam keadaan berlari dan melanggar pinggan nasi lemak yang sedang kita nikmati. Pinggan bertaburan pecah dan kuah sambal bilis melekat pada baju kita yang putih. Dengan penuh kemarahan kita genggam lengan anak kita dan kita tinggikan suara semaunya, kita terus marah dan kita terus meleterinya hingga akhirnya anak kita ketinggalan bas.

Setelah puas menumpahkan kemarahan pada anak kita tadi kita terus bergegas kebilik untuk menukar pakaian. Selesai tukar pakaian kita terus heret anak kita yang masih menangis naik kekereta. Kita terus pecut ke sekolah untuk menghantar anak kita yang ketinggalan bas tadi. Tiba-tiba terdengar siren polis trafik dan ternampak pegawai polis tersebut mengarahkan kita berhenti ditepi jalan. Terus pagi itu kita dapat ‘surat cinta’ kerana memandu laju dan merbahaya.

Anak kita semakin takut dan terasa bersalah, ia hampir-hampir kehilangan dirinya sendiri. Dinding kereta ayahnya terlihat umpama palang-palang penjara dan dia umpama pesalah yang sedang menanti hukuman. Wajah kita semakin bengis hingga hilang sinar kasih sayang pada riak wajah kita bahkan yang terlihat adalah kebencian dan kemarahan yang meluap-luap. “Ini semua salah kamu!” Kita menengking untuk melepaskan kemarahan kita. “Tengok! Ayah dah kena saman, siang malam ayah kerja keras untuk makan pakai kamu, yuran sekolah kamu dan sekarang nak bayar saman pulak” Kemarahan kita umpama empangan pecah yang menyapu bersih rasa kasih, simpati dan sikap pemaaf sebagai ayah. Sampai di sekolah kita renung wajah anak kita tadi dengan renungan yang begitu tajam hingga ia melangkah lemah dan penuh kekecewaan. Tidak ada kata-kata yang mampu terucap, lidahnya kelu seribu bahasa  tetapi jiwanya bergejolak. Rasa bersalah, takut bahkan mungkin rasa benci dan teraniaya dengan kekasaran kita. Ya, dia mempelajari sesuatu: kemarahan, kebencian dan mahalnya kemaafan.

Adakah dari jiwa anak ini akan lahir sifat penyanyang, pemaaf dan lapang dada? Adakah peribadinya akan tumbuh sebgai seorang yang sabar, tabah dan tenang menghadapi kehidupan?

Kita terus memecut kepejabat sambil menyumpah seranah pegawai polis, anak kita dan sesiapa saja yang menghalangi jalan kita KECUALI diri kita sendiri. Ya, kita tidak pernah bersalah. Hanya beberapa ratus meter untuk sampai ke pejabat baru kita perasan, beg kita yang mengandungi fail yang kita perlu serahkan pada boss kita pagi itu tertinggal dirumah. Kita terus patah balik dan akhirnya sampai begitu lewat sekali kepejabat dan ……

SEKARANG cuba kita rewind semula.

Ketika anak kita melanggar kita yang sedang bersarapan.

Apabila anak kita terlanggar… terus kita ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un kerana itulah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW; apabila ditimba musibah, ucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummarjuni fi musibati wa akhlufli khairan minha (Dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali, ya Allah berilah ganjaran dari musibah ini dan gantikanlah ia dengan yang lebih baik). Bahkan pernah Rasulullah SAW duduk dengan para sahabat, tiba-tiba pelita terpadam… lalu Rasulullah mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, hingga ada sahabat yang bertanya “Ya Rasulullah, adakah ini pun musibah?” Jawab baginda “Apa saja yang menyulitkan mukmin(Orang yang beriman)  adalah musibah.”

Ya, setiap kesulitan itu adalah musibah dan setiap musibah itu ada pintu untuk syaithan masuk kedalam hati kita lalu membisikkan kebusukan, kebencian dan kemarahan. Jadi cepat-cepat kita tutup pintu itu dengan kembali mengikat diri kepada Allah SWT dan hakikat kekerdilan diri kita serta hakikat datang dan kembali pada Allah SWT.

Lalu kita dengan tenang memegang tangan anak kita dan berkata lembut padanya “Cuba tengok …kalau banyak sangat kita main-main kita akan cuai. Tentu Allah tak suka kalau kita selalu bermain-main dan cuai dalam hidup kita. Tak salah kalau nak bermain-main tetapi ada masa dan tempatnya…..” Kita terus menasihatinya untuk beberapa minit kemudian terus menukar pakaian kita dan anak kita terus berlari mendapatkan bas yang lalu dihadapan rumah kita. Kita pun bertolak ketempat kerja tanpa sebarang masalah.

Subhanallah…. Musibah tadi dapat kita jadikan sebagai medan untuk bersabar disamping memperbetulkan akhlaq anak kita. Dari musibah yang kecil tadi… kita semakin akrab kepada Allah dan anak kita merasakan dirinya terdidik. Anak kita dapat melihat indahnya kemaafan dan kesabaran, bahkan ia merasakan dirinya begitu berharga dan disayangi. Tentu langkahnya diiringi rasa bangga dan yakin diri.

Cuba kita bandingkan dengan kisah yang pertama tadi… tentu malang memiliki hati yang begitu bahkan anak kita terpaksa menempuh kehidupan yang penuh keraguan dan ketakutan. Peribadi bagaimanakah yang akan tumbuh pada diri anak kita dan apakah keuntungan yang kita dapat di dunia dan akhirat nanti.

Namun, bukan mudah untuk bersabar dan pasrah dengan kehendak Allah SWT kerana semua itu adalah natijah atau buah dari keimanan yang benar. Keimanan yang terbina diatas ma’rifatullah (mengenal Allah dengan jalan-jalan ilmu yang benar) sehingga melahirkan syu’ur atau perasaan yang dapat merasai kehadiran Allah dalam kehidupannya bahkan dapat merasai kesempurnaan urus tadbir Allah SWT sehingga ia sentiasa berinteraksi dengan Allah melalui doa dan munajatnya.

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: